Posts

Showing posts with the label parenting

cara memanggil anak biar pulang

KAKI DULU, BARU MULUT Duluu waktu belum tahu ilmunya, saya pernah memanggil Qairina yang sedang bermain di rumah tetangga depan rumah dengan cara berteriak-teriak dari pintu depan. Beberapa kali saya memanggilnya dia gak pulang-pulang. Bahkan menjawab panggilan saya pun tidak. Mendengar dan melihat apa yang saya lakukan, suami saya menegur. "Bukan begitu cara memanggil anak biar pulang dari bermainnya, mamah." Lalu dia menyontohkan sendiri bagaimana seharusnya saya memanggil Qairina yang lagi asyik main dan membujuknya pulang untuk makan siang. Yang suami saya lakukan adalah keluar rumah menuju ke rumah tetangga. Lalu dia mengobrol dan ikut bermain sejenak dengan anak-anak. Setelah dirasa cukup, dia mengajak Qairina pulang dengan ajakan yang menyenangkan sambil berpamitan pada teman-teman mainnya. Ajaib! Qairina nurut diajak pulang. Setelah Qairina makan dan lalu tidur, suami menasihati. Katanya memanggil dengan cara berteriak-teriak itu tidak sopan, juga tidak efektif....

Belanja di pasar tradisional

*Bismillah* *INSPIRATIF*: *Ketika Si  Miskin Membiayai Orang Kaya* _*Oleh : Salim  A.  Fillah*_ Hakikat perniagaan di negeri ini sering saya gambarkan dalam cerita tentang seorang pengusaha kecil yang memiliki produk, katakanlah keripik ubi. Untuk dapat masuk ke sebuah supermarket besar, produk ini harus melewati sekian uji-saring ketat, dari kualitas hingga kemasan. Dan akhirnya iapun diterima, terpampang agak tersembunyi di salah satu sudut raknya. Tapi sistem pembayaran keripik ubi itu adalah *konsinyasi*; tiga bulan dipajang baru dihitung berapa yang laku. Laporan bisa diambil sekaligus sisa barang. Lalu pembayaran tunai baru akan diterima secepat-cepatnya sebulan kemudian. *Total empat bulan.* Tapi kalau si pemilik usaha amat kecil ubi ini pada saat menyetorkan dagangannya hendak beli beras atau gula di supermarket itu, bisakah ia minta dihitung nanti dari hasil dagangannya? *Tidak*!. Dia harus membayar tunai. Saat itu juga. *Inilah tata ekonomi, di mana oran...

Tantangan kidz zaman now

🌱 Mendidik Kids Zaman Now 🌱 👳‍♂️ Ust. Bendri Jaisyurrahman Kalau zaman dulu anak melakukan kesalahan pada orangtua maka anak yg akan meminta maaf tapi zaman sekarang malah sebaliknya. Inilah kids zaman now/generasi cyber/generasi Z/generasi internet yg lahir tahun 1995 ke atas yg identik dengan era digital. Pada kidz zaman now ikatan hati ortu dengan anak sudah mulai renggang. Hal ini yg dimanfaatkan oleh para predator, pengedar narkoba atau pelaku kejahatan untuk menjerat korban dengan teknik grooming. Teknik Grooming adalah predator atau pelaku kejahatan mencari anak yg tidak dekat secara emosi dengan ortu di media sosial yg suka menggunakan hastag #Galau #Kezel #Bete dll kemudian pelaku membuat akun palsu dengan profil picture cowok ganteng yg statusnya penuh dengan tausiyah atau quote Islami. Pelaku tersebut mengajukan permintaan pertemanan, menunggu kesempatan untuk komen di status cewek tersebut kemudian mulai japri dan memberikan k...

Nasihat untuk wanita menikah

Syaikh Fuad Shalih, seorang ulama dan penulis buku pernikahan, memberikan nasehat kepada para muslimah agar tidak menikah dengan laki-laki berikut ini, meskipun ia ber-KTP Muslim: #Meninggalkan shalat Meskipun ber-KTP Islam, jika laki-laki tersebut meninggalkan shalat (baik tidak mendirikan shalat maupun kadang shalat dan kadang tidak), maka ia tidak pantas dipilih menjadi suami bagi muslimah. Sebab, shalat adalah pembeda antara orang mukmin dengan orang kafir. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Perjanjian kami dengan mereka adalah shalat. Orang yang meninggalkan shalat, berarti ia telah kafir” (HR Tirmidzi, shahih) Siapa yang berani meninggalkan shalat, berarti ia telah mengkhianati amanah Allah. Jika amanah terbesar sebagai muslim saja ia tinggalkan, bagaimana ia bisa menjaga amanah pernikahan. Meskipun secara seksual ia setia, tetapi ia tidak dapat menjadi pembimbing dan imam dalam keluarga. #Gemar melakukan dosa besar Laki-laki yang gemar melakukan dosa besar, misalnya ...

Merawat anak & ibu

*Kasih Ibu Tak Bertepi, Kasih Anak Selalu Ber-Tapi* Fb dr. Rina Juwita Sejak dulu sy senang memperhatikan perilaku para penunggu pasien. Sy juga sering menulis bagaimana kesetiaan seorang suami merawat istri yg sakit dan begitu sebaliknya. Namun kdg ada perbedaan yg sangat terasa. Jika yg sakit anaknya dan yg menunggu adalah sang ibu atau ayahnya dpt dipastikan perhatian dan harapan kesembuhan jauuuuuh melampaui lelahnya menunggu si sakit berhari2. Tapi jika yg sakit ada ayah atau ibunya dan yg menunggu anaknya begitu byk alasan yg kdg bikin sy jd ikut emosi.. Pernah suatu saat, seorang ibu menunggu putranya yg sdh separuh baya. Si anak menderita penyakit menular seksual akibat perilakunya. Dia dibawa ke RS krn muntah darah krn infeksi yg berat (sepsis). Sy lihat sendiri tanpa rasa takut tertular ibu renta itu membersihkan muntahan anaknya dgn tangan keriputnya, tanpa alas.. tanpa dialasi apa2. Wajahnya cemas. Dia kami edukasi ttg kondisi putranya, dia sampaikan dg suara lirih. Apa...

Bahagiakan pasangan

🍃🍂 AYAH YANG HEBAT, BERAWAL DARI SUAMI YANG HEBAT 🍂🍃 Perempuan (makhluk berkromosom XX) yang jiwanya butuh mengeluarkan 20 ribu kata per hari. Ibu yang jarang diajak ngobrol santai oleh suaminya, maka bahasa tubuh dan nada bicaranya tidak mengenakkan. Menyusui anak akan resah, tak sabar dengan kelakuan anak, bahkan cenderung menjadikan anak sebagai sasaran pelimpahan emosi yang tidak semestinya. Jadi, kadang endapan permasalahan dengan sang ayah dimanifestasikan dalam bentuk amarah yang tidak jelas kepada anak-anak. Terkadang, ada Ibu yang tetap sabar kepada anak-anaknya meskipun Ayah tak memberi ruang bagi jiwanya..., tapi manifestasi ekstrim nya dalam bentuk penyakit fisik yang sulit sembuh. Maka tugas wajib ayah adalah memberikan ruang, waktu dan suasana setiap hari bagi Ibu untuk bicara sebagai upaya untuk selalu menyehatkan jiwanya, mendengar keluh kesahnya. Rangkul Ibu untuk marah dan menangis kepada Ayah saja agar sehat jiw...