Hikmah Bencana & Musibah

KALA SEMESTA BERTUTUR

Copas FB M. As'ad Mahmud

Tiada suatu bencanapun yang terjadi di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berputus asa terhadap apa yang terlepas dari kamu, dan jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,(Al hadid : 22-23)

Seberapa sering bumi pertiwi disapa bencana? Alam ini, dan semua kejadiannya,  ada dalam genggaman-Nya : penciptaan dan pembinasaanya, hidup dan matinya, utuh dan lantaknya. Nun di atas sana, pena telah diangkat, catatan pun sudah mengering. Tak ada yang sia-sia. Tak ada yang di luar agenda. Semua peristiwa datang dan pergi dalam skenario yang rapi, membawa hikmah bagi sebagian, dan membawa adzab bagi sebagian yang lain. Di tengah rangkaian bala`, mari tunduk sejenak : ada di golongan mana kita berada?

Dari dua ayat yang mulia itu, berderet pesan bisa dirangkum. Diantaranya : rupanya ada orang berputus asa karena gagal mendapat sesuatu. Dan ada pula yang terlampau gembira — bahkan  menjadi angkuh-  karena berhasil mendapat sesuatu. Sehingga pada titik tertentu,  musibah itu perlu dikirim, untuk meluruskan yang bengkok, menundukkan yang congkak, membersihkan yang dosa, dan menyadarkan yang lena. Ikhtiar itu wajib. Antsipasi penanggulangan bencana juga harus dibuat. Tapi pada akhirnya, kita ingin sampai pada taraf kesadaran : sejatinya, tugas kita bukanlah menghindari mati sambil menggenggam dunia, tapi menata hidup untuk menjemput maut dengan jalan terindah.

Dulu, Nabi Musa disambangi Allah SWT di puncak Sinai. Berdialog secara langsung. Karenanya, ia dijuluki kalimullah. Nabi Muhammad SAW lebih dahsyat lagi, di minta sowan ke arsy di langit ke tujuh. Menerima wahyu sholat yang terrangkum dalam dialog nan abadi. Ini sekadar  untuk membandingkan saja, kita ini bukan siapa siapa. Hanya sahaya penuh dosa, tak kurang dan tak lebih. Jangan menunggu Jibril menghampir di tepi jalan. Maka cara Allah mengirim pesanpun berbeda, misalnya dengan musibah. Seperti kali ini, bumi nusantara bertutur lagi. Dengan lumpur yang menggelegar, alam yang gemeretak, dan banjir tsunami yang meruah rinai. Tapi untuk apa? 

Disinilah rahasianya . Bahwa bagi masing-masing individu, musibah yang sama tak mesti memiliki tujuan yang seragam. Bagaimana seseorang berreaksi terhadap pesan Tuhan, di situlah derajatnya ditentukan dengan akurat. Sampai — sampai Nabi bersabda; bahwa manusia itu seperti tambang emas, yang akan tampak nilainya dengan dibakar. Ini sebenarnya tidak hanya berlaku pada musibah. Tapi juga segala yang kita temui di mayapada ini. Lihat cerita Allah tentang nyamuk di surat al baqoroh. Orang — orang  beriman  nyaman berujar; ini sesuatu yang haq dari Allah. Tapi manusia kufur terkesiap congkak, apa maksud Allah membuat permisalan yang seperti ini? Dengan peristiwa yang sama, banyak orang mendapat hidayah, tapi banyak pula yang tersesat menjauh. Hadaanallah wa iyyakum

Bagi sebagian orang, bencana adalah musibah dunia akhirat. Yang dimilikinya hilang tak berbekas, imannya juga ikut hanyut meluruh. Keangkuhannya kala bergelimang nikmat beralih rupa menjadi putus asa dan sumpah serapah. Laksana pendulum yang bergerak dari satu ekstrim ke ekstrim lain yang sama buruknya. Memang menilai dan menyaksikan itu selalu lebih mudah. Tapi sungguh tulus hati berharap, semoga Allah menyayangi saudara-saudara yang sedang diuji, agar tak masuk golongan mereka. Tersadar diri kita kala membaca ayat, yang saya kurang mengerti, ini cerita atau sindiran: Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah dari pinggiran, jika ia memperoleh kebajikan, ia bertenang diri, dan jika ia ditimpa bencana, berbaliklah ia ke belakang (kekafiran). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. (Al hajj: 11)..

Jadi mesti bagaimana kita bersikap? Bismillah, Mari menata diri laiknya insan beriman. Bagi orang — orang istimewa ini, setiap kali Allah mengirim pesan, ia berusaha menangkap maknanya sambil mawas diri. Bukan menyalahkan orang lain, apalagi merutuki cuaca dan bentang alam. Berikutnya, berbaik sangka terhadap kehendak-Nya. Lafadz istirja` adalah ekspresi terbaiknya. Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji`un. Terjemah bebasnya kira-kira begini; Sesungguhnya kami milik-Mu ya Allah, dengan segala yang kami punya. Jika Engkau hendak mengambil kembali, tinggalkan di hati kami ruang ikhlas dan kesabaran. Biar luruh raga terhempas, jangan iman yang sampai tercerabut. Kukuhkan kami menyambut episode takdir-Mu yang berikut. Kami yakin seribu hikmah telah Kau susun. Dan akan datang suatu masa kami berduyun menjemputnya. Semoga musibah ini menuntun kami makin merapat di sisi-Mu dalam derajat yang termulia. Begitulah kami memahami makna pahala dalam doa baginda tentang musibah : Allahumma`jurnaa fii mushibatinaa  
Maka, menghadapi terjangan air yang meluap, dan bumi yang gemeretak mengguruh, semoga lisan ini masih sanggup berbisik lirih : Robbanaa maa kholaqta hadza bathila, Subhaanaka faqinaa adzabannaar

Comments

Popular posts from this blog

Pembelaan tentang ijazah palsu

mimpi di kamar hanin

Simpan untuk hari tua