Apa beda S1, S2 dan S3
Apa bedanya S1, S2 dan S3?
=======================
Mulanya topik ini ada pada obrolan ringan pada suatu forum. Oleh karenanya akan saya bahas yang ringan dan menghibur saja, supaya tidak malah menambah pusing. Apalagi ada beberapa posting di FB dan berita terkini yang membahas tentang gelar kesarjanaan.
Perbedaan umum Strata-1 (S1) dst. nya adalah tujuan dari program pendidikan strata tersebut, yaitu:
S1---> Know How;
S2---> Know What;
S3---> Know Why.
Terutama pada jurusan teknik atau engineering. Program S1 lebih mengarah kepada pengenalan teori dan praktek, dimana teori sekitar 60% dan praktek sekitar 40%. Mengajarkan mahasiswa untuk tahu dan mengenal teori (teknik) dan bagaimana penerapannya di dunia nyata (kerja).
Program S2 dan S3 lebih banyak bertumpu kepada riset yang tujuannya meng-eksplore berbagai kemungkinan sesuai bidang keilmuannya. Melakukan sintesis-analisis sesuai kaidah keilmuannya tersebut. Boleh jadi berupa teori baru, atau bahkan membatalkan teori sebelumnya dengan dasar yang lebih kuat.
Terutama program S3, pada jurusan engineering ada pendalaman mengenai filosofi keilmuannya. Sehingga di beberapa negara, lulusan S3 mendapat gelar PhD (Doctor of Philosophy).
Perlu diperhatikan bahwa perguruan tinggi modern membasiskan pendidikan dan pengajarannya pada kemampuan olah pikir logika dan rasional. Lulusannya diharapkan mempunyai kemampuan sintesis-analisis yang baik. Dan juga harkat martabat untuk memahami masalah dan memberikan solusi yang paling pas.
Pada beberapa tulisan sebelumnya, dibuat uraian tentang apa itu logika dan rasional, karena nampaknya banyak lulusan perguruan tinggi belum faham benar. Dengan pemahaman logika-rasional yang baik, diharapkan dapat melakukan sintesis-analisis lebih baik.
Dari cara seseorang menyampaikan argumen, semestinya dapat terbaca cara berfikir, wawasan dan kearifannya (wisdom). Bukan tentang sopan santun atau tata krama, yang sering hanya merupakan gaya bahasa personal. Intinya semakin tinggi pendidikan seseorang, intelektualnya semakin tinggi, maka akan sangat mudah menjelaskan dengan bahasa paling sederhana tentang masalah yang rumit.
Kalau membuat masalah sederhana menjadi semakin rumit, sepertinya semua orang juga bisa.
Sempat ingin sekolah lagi mengambil S3, diketawain oleh teman-teman yang sudah professor senior. Kata beliau, buat apa kamu ambil S3? Saya jawab, supaya keren. Makin ketawa lah beliau-beliau itu. Karena saya bukan dosen atau peneliti, gelar doktor nggak ada gunanya bagi saya untuk naik pangkat atau naik jabatan. Kalau disebut menambah ilmu dan wawasan? Bukannya geer, tapi berapa banyak orang yang punya pengalaman membuat chip gyroscope, simulator pesawat terbang dan pesawat terbang itu sendiri? Barangkali itu yang membuat teman professor saya tertawa terpingkal-pingkal, mendengar saya ingin kuliah S3...
Terus terang, saya belum tertarik untuk memasang gelar. Belum ada gunanya pada pekerjaan saya saat ini. Malah jadi nggak enak, karena nanti dikira orang pintar. Oleh karenanya saat ini saya cukup nyaman dengan hanya ijasah SMA saja.
Salam,
Widodo.sw@gmail.com
Comments
Post a Comment