Cukup vs Kaya

Cukup

Seingat saya, saya nggak pernah mengaku orang kaya. Kalaupun saya pernah menyebut diri saya kaya, saya sebut saya ini kaya tanggung. Antara miskin dan kaya. Kalau saya menyebut diri saya orang kaya, itu artinya saya sedang khilaf atau tidak sadar.

Saya lebih suka menggambarkan diri saya, soal nafkah saya,  "lebih dari cukup". Ini sebuah kesadaran penting bagi saya.

Kaya bukanlah tujuan hidup saya. Saya bisa bepergian ke berbagai negara tanpa jadi orang kaya. Keinginan saya sejak dulu adalah bepergian ke berbagai tempat. Jalan yang saya pilih bukan dengan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Saya memilih untuk cari sekolah.

Saya beli mobil karena butuh, bukan karena merasa kaya, atau untuk membuat tanda bahwa saya kaya. Ketika saya diberi mobil dari kantor, saya tidak membeli mobil lagi buat diri saya, karena mobil dari kantor sudah cukup.

Saya menabung tidak untuk membuat diri saya tambah kaya. Sekedar cukup untuk membiayai sekolah anak-anak saya, dan cukup untuk biaya hidup saya kelak. Saya tidak ingin mewariskan harta kepada anak-anak, sebagaimana ayah saya tidak mewariskan harta untuk kami.

Bagi saya tidak ada yang lebih membahagiakan daripada merasa cukup. Cukup artinya sadar soal perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Hidup dijalani dengan memenuhi kebutuhan, bukan memuaskan keinginan. Kepuasan didapat dari merasa cukup, bukan dari tercapainya semua keinginan.

Fb Hasanudin Abdurakhman

Comments

Popular posts from this blog

Pembelaan tentang ijazah palsu

mimpi di kamar hanin

Simpan untuk hari tua