Agamawan vs politisi

PERUBAHAN NILAI ITU | Seorang wartawan Amerika Serikat, berkunjung ke Yogyakarta. Ini tulisan Dr. Achmad Munjid, dosen antropologi UGM, yang lagi demen nulis cerpen. Ini salah satu ‘cerpen’-nya yang cespleng (saya rewriting tanpa mengubah isi).

“Saya ingin ketemu politisi,” berkata sang wartawan AS begitu ia tiba di Yogya.
“Kalau begitu, silakan datang ke masjid,” kata seorang warga yang ditemui.
“Ke masjid?” si wartawan kaget dan bingung. “Bukannya masjid tempatnya ustadz?”
“Sampeyan keliru. Kalau mau ketemu ustaz, pergilah ke universitas.”
“Ada-ada saja anda ini,” sang wartawan tambah bingung, Ini lebih kacau lagi. “Universitas kan tempatnya intelektual?”
“Ah, sampeyan keliru lagi, Kalau mau ketemu intelektual, pergilah ke warung angkringan.”
“Waduh,..." kepala si wartawan mulai pening, “Warung angkringan kan tempat para broker dan orang-orang kurang kerjaan?”
“Sampean perlu lebih banyak bergaul di sini,” kata warga itu dengan senyum bijaksana. “Kalau mau ketemu broker dan orang-orang yang kurang kerjaan, silakan pergi ke gedung Parlemen.”
Kepala si wartawan benar-benar seperti makin dipilin-pilin. Tapi ia ingin terus mengejar lawan bicaranya. "Parlemen kan tempat wakil rakyat?”
“Sampeyan wartawan tapi mungkin kurang baca berita ya? Kalau mau ketemu wakil rakyat, silakan pergi ke tahanan KPK,” jawab si warga setengah terkekeh.
“Waduh, tobat saya. Di sana kan tempatnya para koruptor?”
“Nah ini...kalau mau ketemu koruptor silakan datang ke partai-partai politik.”
“Bagaimana ini?” si wartawan merasa nyaris tidak sanggup lagi mengikuti nalar lawan bicaranya, Tapi ia ingin mencoba untuk terakhir kali, “Partai politik kan tempatnya para politisi?”
“Laaah,... sampeyan masih belum paham juga. Kalau mau ketemu politisi, datanglah ke masjid. Kan sudah saya kasih tahu dari awal,...”
Si wartawan Amerika itu pun hanya bisa melongo.
“Ini Indonesia Bung! Jangan gampang terjebak kategori, Mungkin bagi anda ini semua tampak membingungkan, Tapi asal tahu saja, kami rakyat punya rumus yang jitu untuk mengatasi kebingungan seperti itu,..."
“Apa itu?” bertanya si wartawan Amerika.
“Jangan percaya agamawan yang selalu berbusa-busa bicara politik, dan jangan pernah percaya politisi yang sibuk bicara agama!”
.
.
.
Sunardian Wirodono

Comments

Popular posts from this blog

Pembelaan tentang ijazah palsu

mimpi di kamar hanin

Simpan untuk hari tua