Rating film Joker sebelum nonton
Oke, admin udah muak soal ini.
Ehem, admin sekarang mau ngomongin mengenai hal yang lagi sering terjadi di penayangan bioskop-bioskop Indonesia.
Selain tentang Wibu yang live stream dan SG-in film Anime Jepang di bioskop, admin mau ngebahas tentang etika/perilaku orangtua yang tidak pernah memperdulikan sebuah Rating/batasan umur dari sebuah film.
Admin akhir-akhir ini lagi dibuat muak, film yang sekarang sedang tayang di seluruh bioskop Indonesia, yang merupakan tokoh ikonik dari komik, dan merupakan rivalnya dari Batman. Ya, film Joker.
Kenapa muak, Min? Karena saat penayangan film Joker, masih banyak ortu yang mengajak anak-anaknya untuk ikut menyaksikan film tersebut.
Loh, apa salahnya? inikan Joker? Pasti ada Batman dong? Batman kan buat anak-anak?
Jelas salah, dan sayangnya bukan, karena ini adalah sebuah film Drama-Crime-Psikologi, mengenai seseorang yang selalu terabaikan dan diinjak-injak oleh masyarakat.
Ini bukan film superhero. Film ini begitu berat dan begitu "emosional dan depresi"nya. Film ini mengandung adegan kekerasan yang brutal, bahasa kasar, prilaku tak patut dilihat/dicontoh dan dibalut dengan atmosfir atau suasana yang begitu depresinya hingga ikut menekan para penonton.
Aku gak bisa ngebayangin, ya karena aku sendiri punya adek-adek masih SD. Trus ngajak mereka nonton film ini dibioskop, gak kebayang dampak yang mereka dapatkan dari film ini.
Film ini bahkan di Amerika sana, menimbulkan perselisihan atau meributkan satu hal, karena film ini dikatakan memberikan sebuah oposisi yang membenarkan seseorang untuk melakukan kejahatan, dan hal ini menjadi pro dan kontra disana.
Aku heran, dan bertanya-tanya, apakah orangtua ini tahu film apa yang akan mereka tonton? Apa mereka searching terlebih dahulu sebelum nonton? Yang paling utama, APA MEREKA MELIHAT ATAU BAHKAN MEMPERDULIKAN RATING DARI FILM INI?
jawabannya? Kurasa nggak. Mereka gak peduli.
Mereka bakal nonton, ngajak anaknya, terus mereka kaget didalem bioskop, kemudian keluar bioskop dan ngomel serta protes ke pihak bioskop dengan kata-kata kurang lebih seperti ini "Kok, filmnya sadis gini, mas? Anak saya nonton, Lho!?"
Hah? Halo? Ibu? Bapak?
Kasus ini bukan baru sekarang terjadi, dulu juga sering, aku ingat pas 2016 kemaren, ketika Deadpool 2 sedang tayang... Ada ibu-ibu yang protes di status Facebook nya, dengan marah-marah bahwa dia kesal film ini sadis dan anaknya jadi nonton filmnya.
LSF capek-capek membatasi usia penonton, dan mengkategorikan nya jika orangtua dan juga kalian yang masih muda tidak memperdulikan rating tersebut.
Apa mereka tidak melihat pengumuman dari LSF? Biasanya seperti ini:
"JOKER"
UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Apa mereka gak liat pengumuman itu? Setidaknya dengan teliti, mereka jadi kaget dan langsung membawa anaknya keluar. Atau sebelum hal itu terjadi, lihat batasan umur untuk sebuah film, bisa dari google, atau bahkan di lokasi bioskop.
Aku juga kadang suka ngerasa kecewa sama pihak-pihak bioskop yang pengawasannya kurang ketat dan malah meloloskan anak-anak dibawah batasan umur untuk menyaksikan sebuah film tersebut.
..... harus mengawasi lebih ketat lagi saat pembelian tiket, kalau terlewat saat baru masuk studio.
Itu merupakan hal yang terpuji untuk dilakukan karena anda berhasil menjauhkan si anak dari tontonan yang seharusnya tidak mereka saksikan.
Aku sempat sangat mengapresiasi pihak bioskop ketika aku mau menyaksikan Pretty Boys, dimana disitu ada seorang anak sekitar usia 13 tahun bersama orangtuanya, meminta untuk menyaksikan film Pretty Boys. Disitu mba-mba penjaga tiket berhasil menolak dan menyatakan "ini film untuk dewasa, pak, mohon maaf."
"Loh, gitu, mbak?"
"Iya, pak, film ini hanya boleh ditonton untuk yang berusia 17th keatas."
"Ohhh... kok begitu ya, kemaren gak ada yang begini."
"Mohon maaf, pak, ini sudah menjadi peraturan sejak lama sekali."
aku dibelakangnya sangat mengapresiasi tindakan tegas si mbak.
Ibu, Bapak, jika kalian mau menjadi orangtua yang baik dan bertanggung jawab dalam hal seperti ini, tolong ya, mulai sekarang anda mulai memperhatikan yang namanya "BATASAN UMUR/RATING" dari sebuah film. Jadi, setiap film yang tayang itu punya batasan umur untuk disaksikan.
Aku sendiri gak yakin dengan tulisan begini, apa bisa tersampaikan ke mereka dan membuat mereka merubah kebiasaan buruk mereka yang tak memperdulikan rating film.
Duh, guys, aku bingung harus gimana, yang aku yakini sekarang dan yang paling efektif menurutku adalah tindakan tegas dari pihak bioskop nya untuk mencegah anak dibawah batasan umur menyaksikan film tersebut.
Yaelah, cuma film doang.
Statement itu ibarat anda memperbolehkan anak anda menyaksikan video pembunuhan.
Dan ya, tampaknya memang ortu disini itu menganggap "adegan kekerasan" itu bukan hal yang begitu menjadi masalah, berbeda dengan "adegan seks". Tentu. Mereka sangat anti dengan yang bersifat "seks." Anaknya saja tidak pernah diberi edukasi seks, ortu menjauhi segala macam yang berhubungan dengan hal tersebut, meski yang bersifat edukasi demi pengetahuan anaknya sendiri dan pencegahan dimasa depannya.
Sekian.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=921589828222261&id=123716264676292
Comments
Post a Comment