Renungan tentang Kelas Menengah Indonesia
Dear Kelas Menengah Indonesia
[Dalam Kondisi Pandemi Global COVID-19]
Derasnya berita dan konten di lini masa media digital mengenai wabah global virus corona COVID-19, ternyata ada keasyikan sendiri mengobservasi polah kelas menengah (termasuk saya di dalamnya) ...
Kelas menengah jadi pilar ekonomi negara krn belanja konsumsi kitalah yg gerakkan roda ekonomi secara berkesinambungan ...
Kelas menengah jadi penting karena jumlah kita besar dan daya belinya konstan ...
Biasanya kelas menengah berhasil mencapai level income kelas menengahnya krn perjuangan lewat pendidikan, formal atau informal, atau usaha dan kerja keras ...
Karenanya kelas menengah jadi lebih kritis, apalagi dalam sistem demokrasi yang menjamin kebebasan berpendapat, kelas menengah ini sangat lantang mengkritik jika sesuatu tidak sesuai harapannya, walau terkadang kritikannya reaktif ...
Dalam sistem ekonomi yg sejatinya berbasis kapitalisme modern kelas menengah kuat posisi tawarnya
krn daya beli yang konstan ...
Sistem politik demokrasi memberikan posisi tawar yg tinggi pada kelas menengah karena jumlah suara yang besar pula ...
Dalam sistem sosial yg cenderung menghargai seseorang atas status sosial ekonominya, kelas menengah ini jadi powerful karena kuat daya influencenya ...
Tapi semua itu adalah kekuatan agregat dan kolektif bukan individual ...
Jika dikembalikan secara individu, kekuatan itu biasanya kalah dengan kekhawatiran (vulnerability) masing-masing individu ...
Kekhawatiran paling besar kelas menengah adalah kehilangan kenyamanan atau privilege mereka sebagai kelas menengah ...
Maka kelas menengah biasanya paling demanding, suaranya kencang menuntut hak-haknya krn merasa sudah berkontribusi dan membayar kewajibannya ...
Sejarah pun mencatat bahwa revolusi politik dalam sebuah negara biasanya terjadi karena gerakan kelas menengah ...
Dear sesama kelas menengah, dibawah strata kita masih ada kelas menengah bawah, yang sebutan Bank Dunia untuk mereka adalah “aspiring middle class”...
Jumlah mereka juga 2x besarnya dari jumlah kita, menurut data Bank Dunia melalui publikasi Aspiring Indonesia (30 Jan 2021) 115 juta dan jumlah kita 52 juta ...
Keamanan ekonomi dan mobilitas mereka sangat berbeda dengan kita berdasarkan studi Bank Dunia. Kelas menengah bawah sangat sensitif thd guncangan ekonomi, sedangkan kita mobilitasnya tinggi dan daya tahannya lebih tinggi menghadapi guncangan ekonomi ...
Pekerjaan mereka umumnya dari sektor-sektor informal ataupun kalau di sektor formal mereka pekerja lepas atau strata paling bawah dengan pendapatan marjinal ...
Ekonomi mereka sangat bergantung sama belanja konsumsi kita kelas menengah yang konsumtif layaknya orang dari kalangan atas 😊 ...
Taukah kita kalau mereka lebih takut kehilangan pencaharian daripada sama virus corona, karena sehari saja tidak dagang atau tidak kerja keberlangsungan ekonomi mereka bakal guncang? ...
Siapakah saudara kita ini? Bisa jadi abang atau mbak tukang sayur langganan kita, pedagang warung mie ayam atau baso kesukaan kita, abang none ojol atau opang, asisten rumah tangga yg darang harian membantu beberes di rumah atau supir harian yang antar jemput anak-anak kita, supir angkot dan masih banyak lagi (115 juta itu banyak dan manusia semua lho!) ...
Dear kelas menengah yang super kritis dan pinter-pinter semua, wajar memang kita was-was dengan merebaknya virus COVID-19 ini, apalagi WHO sudah menetapkan ini jadi pandemi dunia ...
Wajar kita menuntut pemerintah selalu siap langkah dan sigap utk melindungi kita, apa lagi laporan berita dari Wuhan China, Korea, Italy, Iran hingga Amerika di layar gadget kita bak realita virtual seolah-olah ada di depan mata kita ...
Sehingga kita juga maunya negara ambil langkah persis seperti mereka ...
Serta merta kita berpendapat di media sosial layaknya ahli-ahli dengan analisa dan data, geregetan minta pemerintah ambil langkah seperti maunya kita ...
Khususnya bagi yang teriak-teriak minta lock down, taukah konsekuensinya kawan? Kalau lock down, maka ekonomi mandeg dan saudara kita dari aspiring middle class gak bisa dagang dan bisa gak makan ...
Kalau Jakarta lock down, bagi kelas menengah mungkin bisa bertahan sementara dengan gaji bulanan, atau setidaknya masih punya cadangan dari tabungan ...
Kalau 115 juta saudara kita gak bisa makan apakah kita bisa makan dengan nyaman? Kalau kita masih bisa makan nyaman berarti ada yg salah dengan hati kita kawan ...
Kalau Jakarta lock down implikasinya bisa panjang dan kemana-mana, namanya juga pusat ekonomi dan pemerintahan ...
Siapkah utk terima konsekuensi lanjutan jika Jakarta lock down?
Kerja dari rumah belum tentu bisa diterapkan di semua sektor, jika tak produktif bisa-bisa berujung dirumahkan
Mana ada perusahaan yang tak produktif bisa bertahan?
Kalau ini sampai terjadi jangan-jangan kita pun jadi stress lupa ingatan? ...
Seruan saya bukan ajakan untuk mengabaikan pandemi global yang mengancam nyawa ini teman. Siapa sih yang tak keder dihadapkan dgn risiko kematian? Dengan social distancing kita bisa kendalikam laju penyebaran supaya yang harus dirawat bisa ditampung kapasitas faskes kita ...
Seruan saya hanyalah ajakan untuk berpikir terang, bahwa setiap tindakan pemerintah banyak aspek yg harus dipertimbangkan ...
Negara isinya bukan kelas menengah saja, manusia urusannya bukan soal sehat saja, ketahanan dan pertahanan negara penting untuk keberlangsungan negara ...
Sedih bercampur geli terkadang melihat reaksi kita. Sampai-sampai sosok yg dulu dipuja-puja sekarang dihina-hina.
Yang dulu dihina-hina sekarang dipuja-puja
Hanya karena krn satu keputusan cepat yg seolah paling bijaksana membela kepentingan kita ...
Cara pencegahan penularan COVID-19 ini bukan cuma satu kawan. Cocok di China belum tentu cocok di kita. Bagus di Korea belum tentu bagus di Indonesia. Persoalan politik, ekonomi, sosial dan budaya kita berbeda ...
Rasanya jadi pemimpin perusahaan saja tidak mudah mengurusi para pemangku kepentingannya
Apalagi mengurus daerah dalam satu negara
Konon pula mengurus sebuah negara sebesar Indonesia ...
Seruan ini bukan untuk mengajak agar kita tak boleh mengkritisi pemerintah, sekalipun kita adalah pendukungnya. Jadi pendukung memang tidak boleh cinta buta ...
Seruan ini untuk mengingatkan semata, dalam krisis itu ada yang lebih berbahaya dan mematikan, yaitu hysteria yang membuat kita jadi buta utk hanya selamatkan diri sendiri, sehingga lupa negara ini bukan hanya tentang hidup diri kita saja, tapi keberlangsungan hidup kita semua warga negara. Sila ke-5 kita adalah Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan keadilan sosial bagi kelas menengah ...
Saya teringat, jika sebuah kapal diterpa badai, nahkoda kapal tentunya memiliki peralatan terlengkap untuk melihat bahaya, mengukur risiko serta menentukan langkah-langkah untuk menghadapi risiko badai tsb ...
Bayangkan jika serta merta Mualim
Kapal Bagian kelas I dan II mengambil keputusan tanpa kordinasi dengan nahkoda, lalu para penumpang di kelas I dan II pun euforia mendukung keputusan sang mualim, sementara sang Nahkoda melihat selain menghadapi badai ada pulau-pulau karang yang akan menghadang kapal, dan keputusan sang Mualim akan mengorbankan penumpang ekonomi yg jumlahnya lebih besar dan yang lebih dahulu terpapar petaka. Maka seluruh kapal pun akan celaka yg sebenarnya bukan karena terpaan badai ...
Dalam menghadapi bencana terkadang dibutuhkan kerendahan hati, mempercayai pemimpin krn dia melihat lebih luas dari perspektif kita, dia memikirkan keselamatan semua anggotanya, sehingga kita satu derap langkah dan selamat melewati bencana ...
Renungan ditulis oleh:
Joseph [Joe] Lumban Gaol
Anak bangsa pencinta NKRI yg kebetulan penggiat inklusi keuangan melalui ekonomi digital bagi para pedagang UMKM yg pada umumnya dari kalangan “aspiring middle class”
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10159628830124968&id=627224967
Comments
Post a Comment