Program Kemenkes berantakan gara gara Aturan BPJS

“Program Kemenkes berantakan gara gara Aturan BPJS “

Poli paru saya Kedatangan pasien laki laki usia 50an tahun, rujukan dari salah satu puskesmas.

Saya : bapak ada keluhan apa ?
Pasien : saya sakit paru dokter, saya biasa berobat di Rumah sakit X, kemarin ketika perpanjangan rujukan..saya dirujuk ke Rumah sakit ini oleh puskesmas, karena katanya BPJS on line nya hanya bisa ke Rumah sakit ini.

Ketika saya cek surat rujukkannya, hanya mencantumkan diagnosis TB paru tanpa keterangan lainnya.
Padahal pasien TB paru tanpa penyulit tidak bisa berobat rawat jalan menggunakan BPJS di Rumah sakit.
Harusnya ada penyakit lain atau penyulit pada pasien ini yg menyebabkan harus diobati di RS dg dokter spesialis paru.
Ada foto rongent dada, namun gambarannya juga tidak khas menunjukkan TB paru.

Saya :  Bapak , mana hasil hasil laboratorium nya ?
Pasien : ada di rumah sakit nya dok, saya ngga tahu juga apa hasilnya.

Saya : Bapak tahu apa nama obatnya ? Mungkin bapak bawa contohnya ?
Pasien :  wah habis dok, saya lupa namanya..cuma kata dokternya tidak boleh putus..katanya sakit paru.

Saya coba cari contoh obat obat TB, dan tunjukkan ke pasien apa salah satu obat tersebut yg diminumnya tapi pasien nampak bingung dan ragu.

Saya : kami mohon maaf pak, nampaknya bapak harus kembali ke Rumah sakit X, saya tidak bisa beri pengobatan tanpa data data jelas.kalaupun bapak memang sakit TB....jika pindah harus ada TB 09....tidak loncat begitu saja, karena Program DOTS itu ada aturan yg harus diikuti, pencatatannya harus jelas.
Pasien : ya dok, saya padahal dah bilang sama puskesmas minta ke RS X aja..hups..artinya saya hari ini tidak minum obat yah dok.
Saya : dengan berat hati pak..mohon maaf🙏

Kasus ini bukan sekali dua kali, dan ini sangat merugikan pasien.
Kerugian waktu karena harus meninggalkan pekerjaan,
kerugian materi karena semua itu butuh tranportasi dan tentunya makan minum karena ke RS itu tidak bisa sebentar
Dan kerugian yg sangat berbahaya, jika memang pasien TB ..kemudian obat terputus..apalagi jika pasien kurang motivasi, bisa bisa mereka PUTUS OBAT benaran.

Siapa yang rugi ? Semua Rakyat Indonesia
Pasien yg putus obat akan berpotensi menjadi pasien TB kebal obat ( MDR TB )..sebuah penyakit yg sulit disembuhkan, bisa menyebabkan kematian. Penyakit yg mudah menular ke orang lain dr percikan ludah saat batuk.
Bagi saya pribadi, penyakit ini sama menakutkannya dengan penyakit kanker.
Pengobatannya berat kr harus minum banyak obat dan  sekaligus disuntik banyak obat TB. Efek samping obat MDR juga tidak kalah hebatnya, bisa menyebabkan halusinasi dsb.
Semoga kita semua terhindar dari penyakit ini.

Ini baru satu salah satu contoh penyakit yang pengobatannya jadi kacau dengan adanya aturan BPJS

Buat pemegang kebijakan..
Saya yakin kalian tahu hal ini..sampai kapan kalian abaikan ini ???
Rakyat itu adalah saudara kita, peduli lah ..buka mata hati kalian..

Berikanlah Pengobatan yg baik dan layak untuk Rakyat, bukan hanya pencitraan..

Semua perbuatan ada balasannya, siapa menebar nanti akan menuai
Karena kita tidak selamanya diatas..

#ReformasiBPJSyangProRakyat

1 November 2019

Eva Sridianau

Comments

Popular posts from this blog

Pembelaan tentang ijazah palsu

mimpi di kamar hanin

Simpan untuk hari tua