Ingkar janji bani israil
Kajian Subuh Masjid At Taufiq Srondol Wetan Banyumanik Semarang bersama Ust. Baedhowi. Ngaji Tafsir Al Quran. Kamis, 5 Desember 2019.
ditulis kembali oleh Suteki
BANI ISRAIL INGKAR JANJI TERHADAP ALLOH
TAFSIR QS Al Baqarah AYAT 83:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ
(Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling).
Di dalam ayat ini, Allah SWT mengingatkan kepada Bani Israi agar memenuhi janji-janji yang telah diikrarkannya. Janji-janji tersebut berkaitan dengan larangan menyekutukan Allah SWt, perintah berbuat baik kepada kedua orangtua.
Perintah pertama berkaitan dengan mengesakan Allah SWT sebagai Tuhan yang wajib disembah. Sebab, Allah SWT telah mengutus para rasul kepada setiap umat agar mereka menyembah Allah semata, termasuk kepada Bani Israil. Artinya, Allah SWT melarang umat manusia untuk menyekutukan diriNya.
Setelah membincang janji Bani Israil kepada Tuhannya, Surat al-Baqarah ayat 83 mengingatkan janji mereka yang berhubungan dengan kedua orangtua. Allah SWT memerintahkan Bani Israil agar berbuat baik kepada orangtua. Perintah ihsan kepada orangtua beriringan dengan larangan menyekutukan Allah, karena berbuat baik kepada orangtua termasuk amal kebajikan tertinggi.
Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud, Nabi Muhammad ketika ditanya amal apa yang paling utama, salah satunya adalah berbakti kepada orangtua.
وَفِي الصَّحِيحَيْنِ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: "الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا". قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: "بِرُّ الْوَالِدَيْنِ". قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: "الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, "Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama? Nabi menjawab, shalat pada waktunya. Saya berkata lagi, kemudian? Berbakti kepada orangtua. Kemudian apa lagi? Jihab di dalam jalan Allah. (Ibnu Katsir, 316)
Kemudian Allah SWT menyebut hak kerabat, anak yatim dan orang miskin. Perintah memperdulikan orang di sekitar merupakan bentuk kesalehan sosial. Dalam Surat al-Baqarah ayat 83, Allah SWT sangat menekankan hubungan sesama manusia.
Islam sangat mempedulikan anak yatim karena mereka masih membutuhkan perhatian yang besar. Sebab, anak yatim belum dapat memenuhi kebutahan pribadinya. Pasca ditinggal wafat orangtuanya, tidak ada yang manjadi tumpuan dalam menyanggah kebutuhan hidupnya.
Luka hati yang disebabkan sebuah perkataan seringkali berkepanjangan. Hal itulah yang menyebabkan permusuhan di antara manuia. Maka, penting untuk menjaga lisan dari perkataan yang buruk.
Berbuat baik kepada orang Miskin. Ada dua jenis orang miskin:
1. Suka minta-minta (Njalukan)
2. Tidak mau minta-minta.
Yang lebih diutamakan adalah orang miskin yang tidak meminta-minta. Orang ini jauh lebih dicintai oleh Alloh.
Berbuat ihsan kepada orang miskin ialah memberikan bantuan kepada mereka terutama pada waktu mereka ditimpa kesulitan.
Nabi ﷺ bersabda:
السَّاعِيْ عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمَسَاكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَكَالَّذِيْ يَصُوْمُ النَّهَارَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ
Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah.
Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan shalat di malam hari.
(Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).
Kisah Nabi Musa bertemu dengan Nabi Syu'aib menunjukkan bahwa sefakir apa pun seseorang (Nabi Musa) namun ketika ia berserah diri kepada Alloh, maka Alloh akan akan mencukupi kebutuhan untuk menutup kefakiran kita itu.
Apabila kita tidak mampu membantu orang miskin maka kita jangan menyakiti hatinya dan lebih baik sampaikan dengan perkataan yang baik. Adakah kewajiban selain zakat? Rasululloh menjawab tidak ada. Meski punya rumah kendaraan dll tapi ketika tidak memenuhi nishabnya, maka ia tidak wajib zakat dan tidak wajib membantu orang lain (miskin). Tidak boleh kita mencela orang yang tdk menjalankan sunah, tetapi boleh mencela orang yang tidak menjalankan kewajiban.
Memberikan bantuan itu sesuai dengan kebutuhannya. Memberi makan orang lapar. Ini pahalanya jauh lebih baik. Semakin butuh semakin berpahala. Memberikan pakaian ketika orang tidak punya pakaian (telanjang). Lebih baik lagi memberikan sesuatu kepada orang butuh yang tidak ngomong.
Dalam menjalin hubungan antar sesama manusia, Allahh SWT memerintahkan agar Bani Israil senantiasa berututur kata yang baik. Tidak sedikit, perpecahan berawal dari sebuah perkataan. Perkataan ditengarai lebih tajam dari sebilah pisau yang tajam.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna; semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (Perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam.” (lihat Al-Fath, 10:446)
Dalam konteks sekarang, kita hrs berpikir sebelum menulis di sosmed. Isinya bagaimana, caranya bagaimana dan tujuannya apa. Tujuan hati yang tidak baik lebih baik ditinggalkan. Shodaqoh itu bertingkat-tingkat. Shadaqoh yang terbaik itu katanya diberikan kepada orang alim. Ada ulama yang ditanya begitu, maka ulama yang punya kepentingan itu lebih baik tidak menjawabnya karena ia sendiri berkepentingan sebagai ulama. Intinya tidak boleh ada unsur kebathilan.
Kemudian Allah SWT mengingatkan pula perihal shalat dan zakat. Shalat merupakan bentuk kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan perasaan ikhlas dan ketundukan kepada Tuhan sebagai ruh ketika melaksanakan shalat.
Orang-orang Bani Israil seringkali mengabaikan ruh shalat tersebut. Shalat tanpa dibarengi dengan keikhlasan dan ketundukan tak memberikan makna apa-apa. Maka, Allah SWT mengingatkan Bani Israil tentang pentingnya menghadirkan keduanya dalam shalat.
Kewajiban zakat juga merupakan janji yang dingkari Bani Israil. Padahal, kewajiban zakat adalah salah satu bentuk mensucikan diri dari kotoran hati. Di samping itu, ada hak orang faqir di dalam sebagian harta yang dimiliki.
Maka, Allah SWT dalam Surat al-Baqarah ayat 83 mengingatkan Bani Israil atas janji yang telah diikrarkannya. Sebab, hanya sedikit dari mereka yang mau mentaati perintah Allah Swt.
Wallohi a'lam bishowab.
Comments
Post a Comment