Bertahan yah, sejawat dan nakes dimanapun berada
Catatan harian ke - 15 Rs. DC19
Oleh Tati Bangsa
" Bertahan yah, sejawat dan nakes dimanapun berada "
====================
Dering wa berbunyi : " Dek, tolong konfirmasi segera, apakah benar..meninggal krn covid19?" | " baik dok..segera! " ( text dari salah satu petinggi TNI di Rs. DC19, memforward barisan kalimat belasungkawa salah satu sejawat yg meninggal )|
Selama 20 menit, saya mencoba mengkonfirmasi ke sumber yg terpercaya, dan mengirimkan kembali text padanya " izin dok, betul adanya dan sebelumnya adik sejawat tersebut pun sudah mendahuluinya dgn kasus yg sama ". | text terbalas " hmm😢..Innalillahi, adik kelas diangkatan saya xxxxx ".
Saya menghela nafas panjang, dan hanya ikut menabahkan beliau dgn text singkat turut belasungkawa. Sembari bergumam: " bertambah lagi kini sejawat yang berguguran, dan belum masuk hari ke - 50 Indonesia menghadapi serangan covid19".
Betul, bahwa tren kunjungan covid per bbrpa hari ini menurun. Bahkan, semalaman saya mencroscek beberapa rumah sakit rujukan. Hasilnya sama, angka kunjungan dan rawatan hanya sekitar 5 -10 pasien. Bahkan di Rs. DC sendiri, kunjungan yg biasanya 40 -70 pasien per hari. Sdh seminggu ini, trennya makin menurun 10 -20 pasien saja. Di satu sisi berharap benar adanya, kondisi ini makin membaik. Bukan fiktif belaka..Aamiin
Tapi disisi lain, melihat tingginya angka kematian sejawat dokter, guru besar dan nakes lainnya. Saya kemudian menjadi takut dan khawatir, beberapa diantaranya bukanlah yg berhadapan langsung dgn pasien di IGD atau triage covid. Mereka hanya sejawat praktik mandiri, atau spesialis dibagian lain yg tentu tidak berhubungan secara langsung atau khusus dgn covid+. Tetapi bisa meninggal dgn terinfeksi kasus yg sama. Bahkan beberapa diantaranya para guru besar yang kami hormati dan negara ini punyai. Jika demikian, apa yang salah? Apakah pasien yg datang berobat tak jujur? Ataukah mereka mmg tak pernah tau kondisinya? APD yg krisis ? Atau kami yang lalai?
Banyak kemungkinan - kemungkinan yang lahir dari setiap akibat covid19 ini. Kerumunan yg masih tinggi, belum lagi musim mudik, dll yg membuat saya bergidik. Menggenapkan kekhawatiran sy.
Belum lagi, pasien yg datang dengan gejala fisik yang menipu, dengan perjalanan klinis yang cepat skali berubah, dan konfirmasi hasil diagnostik lainnya yg membuat kami terkaget - kaget, memberat hanya dalam hitungan hari bahkan jam. 😢😢..begitu banyak yg membuat saya tak mampu berpikir, dengan setitik ilmu profesi yg saya miliki.😢
Orang sehat, tampak baik bisa ( + ) covid (OTG ), mual - muntah, atau mata merah ternyata ( + ) covid. Atau, saturasi yg bisa berubah cepat hanya dgn hitungan jam, angka saturasi ( kepekatan ) oksigen yg dicek dgn " pulse oximetry " dan AGD, bisa berbeda sampai 50 % ( bukan alat yg rusak ). Lagi - lagi tertipu!
Seperti 4 malam lalu, pasien usia 23 Tahun, yah..masih muda, usia yg sangat produktif. Mengeluh sesak tiba - tiba, hanya 2 jam setelahnya, kami berusaha memberikan pertolongan. Saturasinya turun dari 95 % menjadi 60% dan kemudian henti jantung. Beradu dgn malaikat maut dan kalah, takdir kematian menjemputnya.
Saya menangis semalaman, sedih skali. Pasien ini dirawat sdh 5 hari lamanya, disetiap akhir bincang saat visite, dia hanya berucap" Dok, saya berharap nti klo sembuh, dan kalo corona ini sdh enyah, saya mau bertemu dokter tanpa penutup badan lengkap seperti itu yah, pengen selfie, klo skrng gak keliatan muka| saya mengangguk tanda setuju, sambil tertawa kecil mengucapkan..sok, sekarang makan yg banyak".
Kini, takbisa lagi. Harapannya kandas. Bahkan menyampaikan pesan ke keluarganya pun saya tak kuasa. Sejawat yg lain. Air mata mengalir, mengupayakan penghormatan dan mendoakannya menuju perjalanan berikutnya dgn sisa tenaga dan bermandikan keringat.😢
Saat itu hanya memahami satu hal. Setelah usaha yg dilakukan, dibelakang kami berbaris peti dan juga panduan pemulasaran menuju TPU yg ditetapkan negara ( Pondok Ranggon & Tegal Alur ), bergabung menjadi satu dgn mereka yg mendahului. Tak ada lagi hantaran, kerabat dan keluarga bergotong royong mengangkat keranda jenazah, atau lafaz doa pengantar jenazah yang terdengar indah dan sayup saling bersahutan seperti dulu. Yang ada, sunyi senyap berteman tangis, dalam diam dan juga doa dari tempat yang berbeda.
Sedangkan disini, sirine ambulance Jenazah Mengiringi pasukan ber APD lengkap dengan hati yg terus gelisah, berharap suatu saat bukanlah nasipnya yang berada ditempat tersebut. 😢
Jika sudah begitu, tak lagi ada daya upaya, kegelisahan terus ada dalam tidur malam kami. Hotel bintang 5 dgn segala fasilitasnya, tidak mampu meredamnya. Setiap menitnya, kami berlomba dengan kesedihan juga harapan yg kami pecut untuk diri sendiri, tak lagi mengingat waktu, bahkan nama hari. Berharap bisa melakukan yang terbaik untuk situasi ini.
Akhir coretan ini, mari terus berikhtiar teman sejawat dimanapun berada. Bertahan yah..terus berupaya walaupun banyak yang " gugur bunga ". Jangan lupa APDnya, dekontaminasi ketat. Jangan lupa!
Saya bagikan sedikit quote penyemangat yg selalu menemani saya bertugas : " YAKIN USAHA SAMPAI " & " ALL IS WELL " / semua akan baik - baik saja suatu hari, dan terus berbaik sangka, kita akan bisa bertemu di suasana hangat dalam canda tawa silaturahim lagi seperti dulu. Merindu kalian semua..
WALAUPUN DILUAR SANA BANYAK MASYARAKAT BELUM MENYADARI, BETAPA MEREKA SAAT INI DIBUTUHKAN KEHADIRANNYA SEBAGAI GARDA TERDEPAN MEMERANGI COVID19 bukan lagi kami!
BAHWA MEREKA BISA LAKUKAN INI :
#BERDOA
#STAYATHOME
#JANGANLUPAMASKER
#JAGAJARAK
#BERSAMALAWANCovid19
Selamat Jalan, selamat jalan.. salam penghormatan bagi seluruh guru besar, prof, senior, sejawat yang mendahului. Semoga kami mampu melewati semuanya. 🙏🙏
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10216354793645617&id=1328154709
Comments
Post a Comment