SAINS vs PSEUDOSAINS

SAINS vs PSEUDOSAINS

Salah satu guna belajar filsafat sains adalah punya pengetahuan untuk membedakan mana sains betulan dan mana yang sains bohongan. 

Pengetahuan ini juga diperlukan oleh saintis untuk menyusun argumentasi sains agar tidak disamakan dengan pseudosains (sains palsu). 

Ada banyak tokoh filosof sains yang membuat kriteria demarkasi antara sains dan pseudosaina. 

Sebutlah Karl Popper. Kriteri tunggal yang ia ajukan adalah bahwa sains layak disebut sains jika dan hanya jika bisa difalsifikasi menggunakan metodologi sains. Difalsifikasi atau dibuktikan salah melalui observasi atau uji coba fisik. Sesuatu yang bisa difalsifikasi bukan berarti salah, tetapi berarti bahwa jika pernyataan tersebut salah, maka kesalahannya dapat ditunjukkan melalui penelitian. 

Hati-hati dalam menyusun argumen saintifik.

Contohnya : 

Klaim I :  Tidak ada manusia yang hidup selamanya. 

Klaim tersebut tidak dapat difalsifikasi karena tidak mungkin untuk dibuktikan salah. Karena untuk membuktikannya harus ada manusia yang tidak mati agar bisa melakukan pengamatan selama-lamanya. Artinya klaim tersebut tidak bisa difalsifikasi. 

Klaim II : Semua manusia hidup selamanya

Klaim tersebut dapat difalsifikasi karena kematian satu orang manusia dapat membuktikan pernyataan klaim II tersebut salah. 

Hati-hati dalam membuat klaim jika tidak ingin pernyataanmu dikategorikan sebagai pseudosains. 

Kriteria demarkasi lainnya diajukan oleh filsuf Paul Thagard, teori atau disiplin adalah pseudosains jika memenuhi dua kriteria : 

1. Tidak ada progress kemajuan. Hasil risetnya begitu-begitu saja. Tidak ada kebaruan. 

2. Peneliti tidak banyak berusaha mengembangkan teori menuju solusi masalah, tidak menunjukkan kepedulian terhadap upaya untuk mengevaluasi teori dalam kaitannya dengan orang lain, dan selektif  dalam mempertimbangkan konfirmasi dan diskonfirmasi. Selalu menyanggah fakta-fakta lain yang bertentangan. 

Poin nomor 2 sering dijumpai pada kasus KIPI. Para peneliti melakukan denial (pengingkaran) jika produk hasil penelitiannya tidak 100% aman. Argumentasi semacam ini justru membahayakan penelitian karena terancam dikategorikan sebagai pseudosains (sains palsu). 

Kriteria mana sains mana pseudosains ada banyak sekali... Coba cek apakah pernyataan yang dikeluarkan oleh seorang peneliti masuk kategori yang mana. 

Diantara kriteria gabungan yang diajukan oleh filsuf sains untuk menunjukkan sesuatu adalah sains palsu adalah : 

1. Hanya segelintir orang yang punya hak menentukan mana yang benar atau salah.  Sedangkan yang lain harus menerima penilaian mereka (orang lain pasti salah). 

2. Eksperimen yang tidak dapat diulang oleh orang lain dengan hasil yang sama. 

3. Obyek penelitian (contoh kasus) dipilih agar sesuai dengan kesimpulan yang diinginkan. Meski sebenarnya contoh kasus tersebut tidak mewakili kategori umum yang wajar. 

4. Ketidaksediaan untuk menguji: Suatu teori tidak diuji walaupun mungkin untuk mengujinya. 

Contoh : korban KIPI tidak diteliti ulang dan langsung disimpulkan tidak ada hubungannya dengan vaksin. 

5. Mengabaikan informasi yang menyangkal. Mengabaikan pengamatan atau percobaan yang bertentangan dengan teori. 

Contoh teori bahwa vaksin tidak aman selalu disangkal. 

 6. Pengujian suatu teori diatur sedemikian rupa sehingga teorinya hanya dapat dikonfirmasi, tidak bisa disanggah, oleh hasilnya.

Silahkan dikaji ulang apakah sesuatu yang Anda anggap sains benar-benar saintifik...

https://www.facebook.com/1428354522/posts/10222509503792864/

Comments

Popular posts from this blog

Pembelaan tentang ijazah palsu

mimpi di kamar hanin

Simpan untuk hari tua