MEMAHAMI KARAKTER PENGEMBAN DAKWAH
*MEMAHAMI KARAKTER PENGEMBAN DAKWAH*
_[Biarkan Nasjo Menjadi Dirinya Sendiri]_
Oleh : Nasrudin Joha
Jangan memaksa 'Umar' menjadi 'Abu Bakar', sebagaimana Ali bukanlah Utsman. Tapi, Sahabat Abu Bakar RA, Umar RA, Ustman RA dan Ali RA adalah orang-orang yang ridlo kepada Allah SWT, dan Allah SWT juga telah ridlo terhadap mereka.
Sikap "Keras" Umar RA tak mungkin dipaksa menjadi "Lembut" laksana Abu Bakar RA. Tetapi keduanya, adalah pemimpin yang tangguh, yang memiliki ketaatan yang luar biasa terhadap Allah SWT.
Abu Bakar adalah orang yang "Super Lembut" namun memiliki sikap yang kokoh bagai batu karang. Saat para sahabat, termasuk Umar RA meminta Abu Bakar tidak memerangi para pembangkang yang enggan membayar zakat, Abu Bakar dengan tegas menyatakan "Aku Akan memerangi siapapun yang membangkang membayar Zakat, sebagaimana orang yang enggan menegakan sholat".
Dalam pandangan Abu Bakar RA, para pembangkang ini bukan saja maksiat tidak mau membayar zakat, tetapi telah kufur karena mengingkari kewajiban membayar zakat pasca mangkatnya Rasulullah SAW. Karena itu, Abu Bakar RA memeranginya, karena hukum bagi orang yang kufur, murtad dari agama Allah SWT karena mengingkari kewajiban zakat, adalah dihukum bunuh.
Umar RA adalah sahabat pemberani, tegas dan bahkan sangat kasar terhadap orang-orang kafir. Umar pernah memenggal kepala orang yang mencari dalih untuk tidak terikat pada syariat, dengan mencari opini kepada Abu Bakar, padahal pendapat Abu Bakar sama dengan apa yang disampaikan Rasulullah SAW.
Karena ketegasan dan keberanian Umar RA, beliau digelari Al Farouq.
Umar juga terbuka melakukan hijrah ke Madinah, ditengah Rasulullah SAW dan sahabat lainnya, mengendap, sembunyi-sembunyi hijrah ke Madinah.
Umar secara terbuka menantang, siapapun yang ingin istrinya menjadi Janda, anaknya menjadi yatim, silahkan halangi Umar.
Karena itu, saat ini biarkan pengemban dakwah menjadi dirinya sendiri. Biarkan mereka, memilih menjadi "Abu Bakar" menjadi 'Umar', menjadi "Utsman" menjadi "Ali" atau sahabat manapun yang mereka kehendaki.
Sahabat Rasulullah itu laksana bintang dilangit. Kepada siapapun merujuk, niscaya akan selamat.
Biarkan karakter pengemban dakwah dengan kelemahlembutannya, ketegasannya, rasa empatinya, keberaniannya, gayanya, tanpa harus dipaksa menjadi karakter yang homogen. Yang penting, semua pengemban dakwah taat syariah, memaksimalkan peran untuk dakwah.
Kadang, dakwah ini butuh pendobrak seperti Umar, butuh Keteguhan Hati seperti Abu Bakar, butuh yang memiliki malu seperti Utsman, butuh yang memiliki keluasan ilmu seperti Ali.
Biarkan pengemban dakwah menjadi dirinya sendiri. Termasuk, biarkan Nasjo menjadi dirinya sendiri.
Biarkan Nasjo mencela rezim jahil ini dengan sebutan Goblok. Sebagaimana dahulu Rasulullah SAW menggelari Abu Jahal kepada Amr Bin Hisyam.
Nasjo, tak mungkin hanya bisa bersikap lemah gemulai kepada rezim zalim. Nasjo, bisa sopan bahkan sangat sopan. Sesuai dengan yang ditujunya.
Nasjo bisa memiliki ungkapan dan memilih kata yang paling nyaman didengar.
Nasjo juga mampu, mengunggah laku melalui bait kata yang mengharu biru, penuh syahdu, mengikat kehangatan kepada sesama pengemban dakwah Islam.
Tapi Nasjo tak mungkin bermanis muka pada pengusa zalim. Penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah SWT. Penguasa Goblok.
Semua penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah SWT, hakekatnya adalah penguasa jahil, penguasa dungu, penguasa Goblok. Al Qur'an sendiri telah memberikan label bahwa hukum yang diterapkan selain hukum Allah SWT adalah hukum jahiliah, hukum kegoblokan. [].
https://www.facebook.com/100038240195877/posts/213749246576414/
Comments
Post a Comment