ASFIKSIA DAN KEMATIAN REZIM

ASFIKSIA DAN KEMATIAN REZIM
by Yogie W. Abarri

Akhir 2016 publik sempat dihebohkan oleh kasus pembunuhan sadis yang terjadi di Pulomas.

Sebelas orang dijejalkan ke dalam kamar mandi berukuran 1,5 m x 1,5 m. Dan kemudian dikunci.

Saat akhirnya ditemukan dan pintu didobrak warga, enam orang di antaranya sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Dari hasil pemeriksaan, dokter berpendapat bahwa korban meninggal dikarenakan mengalami asfiksia yang disebabkan oleh trauma mekanik.

Bingung?
Sammma. Saya juga bingung.
Karena saya bukan orang kesehatan.

Intinya...
Dalam bahasa kita² yang awam ini, korban meninggal karena kekurangan oksigen. Akibat terkurung dalam ruangan yang tertutup.
Dah gitu aja.

Yang ingin saya bahas... Saya ingin mengajak pemirsah untuk membayangkan, situasi yang terjadi di ruangan tersebut yang dialami oleh korban, sebelum korban mengalami asfiksia dan sebelum kemudian korban menemui ajalnya.

Kepanikan yang Melanda

Dalam situasi seperti itu, bisa dikatakan semua orang secara otomatis akan mengalami kepanikan.

Untuk mendekatkan gambaran faktanya, coba Anda bayangkan...
Di hari pemakaman Anda... ketika orang² sudah beranjak pergi meninggalkan area pemakaman...
Tiba² Anda terjaga.

Ternyata Anda itu belum mati.
Ternyata orang² (dan bahkan orang² yang Anda sayangi pun) salah mengira Anda sudah mati. Padahal mungkin Anda hanya sedang mati suri.

Dan ketika saat itu Anda terjaga, dalam kondisi Anda sudah terkubur di kedalaman nyaris dua meter di bawah permukaan tanah... apa yang akan Anda lakukan?

Di dalam liang lahat yang sempit dan pengap itu... bisa jadi Anda akan langsung berteriak. Berharap masih ada orang di atas yang bisa mendengar suara teriakan Anda.

Anda akan berteriak semakin keras. Gasping for air. Dan menangis. Sambil berusaha keras tangan Anda mengais² papan dan tanah, berusaha menemukan jalan keluar ke atas.

Jangan tertawa.
Bisa jadi di antara pembaca akan ada yang tersenyum dan berpikir, ah kalau itu saya, saya takkan panik seperti itu. Sehingga saya bakal begini dan begitu, agar saya bisa keluar ke atas.

Omong kosong.
Ketika Anda melihat kematian sudah ada di depan mata, Anda takkan mungkin bisa melaksanakan apa yang sekarang sedang Anda rencanakan dalam pikiran Anda itu.

Kepanikan akan melanda diri Anda. Dan Anda akan melakukan hal² yang tak logis.

Anda tidak sadar bahwa...
Semua yang Anda lakukan itu hanya akan semakin mempercepat terkurasnya oksigen di liang yang sempit itu.

Dan semakin mempercepat Anda sampai pada kematian yang sesungguhnya, setelah sebelumnya Anda akan mengalami asfiksia terlebih dahulu.

Dentang Lonceng Kematian Rezim

Ketika kepanikan sudah datang melanda, tindakan yang bakal dilakukan sudah takkan lagi melewati proses berpikir yang benar.

Tanpa disadari, tindakan yang dilakukan bisa jadi justru malah semakin mempercepat datangnya ajal.

Demikian pula dengan rezim yang sedang berkuasa di suatu negeri, ketika melihat ancaman kematian sudah hadir di depan mata.

Cukuplah kasus runtuhnya Soviet (USSR) kita jadikan contoh.

Sebagai negara komunis yang mengandalkan kekuatan militer yang represif untuk mengendalikan rakyat, anggaran negara jadi banyak kesedot kesana.
Dan anggaran yang untuk kesejahteraan rakyat menjadi minim.

Stabilitas negara mulai bermasalah, bagaikan manusia yang kekurangan oksigen.

Rakyat yang tak senang dengan kebijakan Lenin dan gaya hidup kaum Bolshevik-nya, malah dijawab dengan didirikannya Cheka (cikal bakal KGB), untuk menebar teror kepada rakyat.

Blunder?
Begitulah.

Berbeda jauh dengan Umar bin Khaththab yang menggunakan 100% anggaran negara untuk rakyat.
Beliau sangat zuhud, tidak berminat pada kemewahan dan kenikmatan dunia. Dan hal itu diikuti oleh para pejabat di eranya.

Sementara di Soviet, Cheka yang beranggotakan 31.000 personil tersebut tentu menyedot biaya operasional yang tak sedikit. Akibatnya, anggaran negara yang untuk kesejahteraan rakyat pun menjadi semakin semakin berkurang.

Apa yang dilakukan tersebut malah bagaikan mempercepat terkurasnya oksigen. Yang itu membuat rakyat semakin mendendam, dan stabilitas negara juga makin runyam.

Makin panik makin brutal.
Makin gelap mata.
Makin ngawur.

Setelah berganti² format dan nama (dan tentu saja dengan anggaran yang makin lama juga makin meningkat), akhirnya terbentuklah KGB.

Anggaran keamanan yang semakin membengkak, mengakibatkan anggaran kesejahteraan rakyat pun menjadi semakin dikorbankan.

Ketika pasokan oksigen sudah mencapai batasan minimal yang bisa ditolerir oleh tubuh, maka kematian pun datang menjelang, setelah sebelumnya mengalami asfiksia.

Akhirnya, tamatlah sudah riwayat Soviet (USSR).

Begitulah.
Selalu seperti itu.

Rezim yang tak bisa merespon dengan benar kegelisahan rakyatnya, dan kemudian malah semakin meningkatkan porsi anggaran keamanannya yang itu otomatis akan semakin mengurangi porsi anggaran untuk kesejahteraan rakyatnya... itu hanya akan mempercepat datangnya kematiannya sendiri.

Apalagi bila mata sudah melotot, detak jantung meningkat, frekuensi napas semakin cepat, kejang², dan gejala² asfiksia lainnya sudah tampak... silakan gelar tikar dan siapkan camilan. Karena kita akan saksikan sebentar lagi... kematian rezim.

Semoga kematiannya bisa turut serta menggeret runtuh seluruh sistem yang menaunginya. Yaitu sistem kapitalisme demokrasi yang tengah berlangsung.

Sehingga Ummat bisa segera menegakkan bangunan sistem baru di atas puing² reruntuhannya. Yaitu sistem Islam yang agung, yang datang dari Dzat yang Maha Agung. []

CEK CORETAN LAINNYA DI
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=148111479098347&id=100016984876409

TELEGRAM BACKUP @bukangoresanpena

Comments

Popular posts from this blog

Pembelaan tentang ijazah palsu

mimpi di kamar hanin

Simpan untuk hari tua