Cara pandang uang

"Umi masih ada uang kan?" kata suami saya waktu itu.
Fb: Rias Nita

Pagi itu, seperti biasa kami duduk di teras. Menikmati secangkir kopi. Hanya kopi tanpa cemilan penyanding seperti hari lalu.

"Masih." Saya menjawab. "Dua ribu."

Lalu kami berdua tertawa.

Waktu itu, sudah hampir setahun kami tidak ada pemasukan tetap, setelah suami kehilangan pekerjaan.

Perubahan kondisi dari 'mengandalkan tanggal gajian yang pasti setiap bulan' ke 'entah kapan ada uang lagi' membawa kami seakan duduk dalam wahana roller coster. Mendebarkan, khawatir, takut, dan ingin muntah saking galaunya.

Perlu beberapa putaran roller coster sampai akhirnya kami bisa memindahkan pikiran dari kursi penumpang ke kursi penonton.

Iya. Kursi penonton. Mengalami hanya untuk menyaksikan. Bukan tenggelam dalam prasangka yang dibuat sendiri.

Pagi itu, meskipun pulsa listrik sudah berbunyi, tempat beras pun sudah hampir kosong, uang di dompet saya tinggal selembar dua ribu, kami bisa tertawa.

Terlalu banyak hal lain yang patut disyukuri. Kesehatan, misalnya. Ketenangan hati, contoh lainnya. Dan, satu lagi.

"Tenang, Mi. Nggak pernah dibiarin habis sama sekali. Bentar lagi pasti dikasih lagi."

Saya ingat beberapa saat setelah beliau ngomong begitu, sebuah pesan masuk. Seorang teman meminta tolong. Bahasanya memang minta tolong, tapi ujung-ujungnya ditukar dengan uang.

Alhamdulillah ....

Tau nggak? Lama-lama terasa bahwa ketiadaan uang hanyalah lelucon. Hanya sementara. Seperti semua, segala yang ada di dunia ini.

Hari ini tidak pegang uang.
Beberapa hari kemudian, uang puluhan juta tertata di lantai. Luar biasa cara-Nya mengajak kami bercanda.

Pikiran seperti itu membuat kami menggeser niat, mengalihkan pandangan, kepada apa yang jauh lebih penting. Lebih kuat. Lebih abadi.

Bukan lagi berikhtiar karena mengejar uang, apalagi karena takut sengsara. Melainkan untuk memberi. Memberi segala daya yang dititipkan-Nya untuk diri.

Memberi sebagai wujud syukur.
Memberi sebagai wujud cinta kepada-Nya.

Kami masih jatuh bangun. Tak jarang juga lupa.
Namun, Dia sungguh-sungguh dekat.
Sungguh Maha Pengasih.
Sungguh Maha Penyayang.

Kamu pun percaya kan?

#MyLoveJourney

Comments

Popular posts from this blog

Pembelaan tentang ijazah palsu

mimpi di kamar hanin

Simpan untuk hari tua